Berita
Pengembangan Manajemen Talenta Asn Berbasis Ai Perlu Tetap Mengutamakan Penilaian Manusia
Kamis, 25 Juni 2026 | 03:05:28 WIB - Jumlah Dilihat: 156
 
 

Sumedang, Pengembangan Manajemen Talenta Aparatur Sipil Negara (ASN) Nasional berbasis Artificial Intelligence (AI) perlu didukung oleh tata kelola talenta yang tetap menempatkan penilaian manusia sebagai elemen utama dalam pengambilan keputusan. Pemanfaatan AI dinilai berpotensi memperkuat efektivitas identifikasi, pemetaan, dan pengembangan talenta ASN, namun belum dapat menggantikan peran asesmen yang dilakukan oleh para assessor dan pengelola talenta.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi antara Direktorat Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional (Pusjar SKTAN) Lembaga Administrasi Negara (LAN), Kamis (25/6), di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Administrasi Pusjar SKTAN.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari penyusunan naskah rekomendasi kebijakan bertema “Pengembangan Manajemen Talenta ASN Nasional Berbasis Artificial Intelligence” yang tengah dilakukan oleh BRIN.

Pertemuan diterima oleh Kepala Bagian Administrasi Pusjar SKTAN, Iman Arisudana, S.Sos., M.A. Dalam diskusi tersebut, Iman menjelaskan bahwa implementasi manajemen talenta yang dijalankan saat ini masih berfokus pada Manajemen Talenta Instansional, termasuk pelaksanaan uji kelayakan bagi pegawai yang akan naik jenjang jabatan.

Menurutnya, proses pemetaan talenta ASN masih mengacu pada Peraturan Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2025 dengan pendekatan sembilan kotak talenta (nine-box talent management), yang telah didukung oleh sistem teknologi informasi yang dikelola oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka pengembangan manajemen talenta, sistem informasi dan teknologi digital merupakan bagian penting dari infrastruktur pendukung. Namun demikian, proses asesmen masih membutuhkan keterlibatan manusia secara signifikan untuk memastikan akurasi dan objektivitas penilaian.

“AI dapat membantu proses analisis dan pengolahan data talenta secara lebih cepat dan luas, tetapi hasilnya tetap perlu dikaji oleh manusia. AI belum dapat dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan dalam manajemen talenta ASN,” ujarnya.

Dalam diskusi juga dibahas peluang pemanfaatan AI untuk memperkuat model pengembangan kompetensi ASN, termasuk pada pendekatan pembelajaran 70:20:10 yang selama ini menjadi acuan pengembangan kompetensi pegawai. Pemanfaatan AI dinilai dapat membantu memperluas akses pembelajaran dan pengalaman kerja berbasis digital, meskipun aspek pengalaman langsung dan pembelajaran sosial tetap memerlukan interaksi manusia.

Melalui diskusi ini, diperoleh sejumlah masukan strategis terkait kebutuhan penguatan tata kelola data talenta, integrasi sistem informasi kepegawaian, serta pengembangan model asesmen yang mengombinasikan kemampuan AI dan pertimbangan profesional manusia. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi kebijakan untuk mendukung implementasi Manajemen Talenta ASN Nasional yang lebih adaptif, objektif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi.

 
LOGIN PEGAWAI